Thursday, 15 June 2017

Si Pihir dan Bru Dihe:Kisah Cinta Yang Tak Terbalaskan (Cerita Rakyat Aceh Tenggara)

Sumber Alur Cerita : Negeri Alas
Edit Versi Baru : Riduwan Philly
Tanggal : 15 Juni 2017
Asal Cerita : Kabupaten Aceh Tenggara
Genre : Tragedi, Romantisme, Mistis

Ilustrasi Si Pihir dan Bru Dihe
dari : Dongeng Anak,
Lawongo
AEFARLAVA (15 Juni 2017) Alkisah, di sebuah negeri nun jauh di sana, di kaki Gunung Leuser, berdirilah sebuah negeri yang termasyur karena kesuburan tanahnya hujan rutin turun setiap tahunnya, sumber mata air dengan mudahnya ditemukan. Tanoh Alas, begitu mereka menyebutkan asal negeri mereka. namun akhir-akhir ini kemarau berkepanjangan menerpa Tanoh Alas, awan seakan-akan enggan mengeluarkan air hujannya membasahi negeri tersebut seperti biasanya. berbulan-bulan lamanya kemarau terjadi, hewan-hewan banyak yang mati karena kepanasan, bahkan musim kemarau yang berkepanjangan itu juga telah menimbulkan korban jiwa pada manusia.

Melihat situasi tak kunjung membaik, Si Pihir,  seorang pemuda kampung dari Kuta Gerat tak tinggal diam dan pasrah akan cuaca yang menyengsarakan masyarakat negerinya. mulailah muncul niat di hatinya untuk pergi merantau  mencari penghidupan yang lebih baik lagi di luar Tanoh Alas. Negeri Bahorok (Tanah Langkat, Sumatra Utara) menjadi tujuan utamanya, dikarenakan semenjak dahulu negeri tersebut telah dikenal akan kesuburan tanahnya, bahkan setiap tahun hujan turun secara teratur disana.

Niat Si Pihir untuk memulai kehidupan baru yang lebih baik di Bahorok diutarakan juga kepada keluarganya, ibu, bibi, bang bru (Suami Bibi), dan juga Bru Dihe anak dari bibinya yang masih remaja. keluarga dari bibi si pihir sangat tertarik untuk memulai kehidupan baru di Bahorok, namun sayang,  gayung tak disambut oleh ibu si pihir, ia enggan untuk beranjak meninggalkan tanah leluhurnya, jadilah ibu Si Pihir hanya menunggu di Tanoh Alas, dengan harapan Si Pihir dan keluarga Bibi pihir dapat sesekali menjenguknya.

Ilustrasi Tanah Subur
Credit : Zona Utara
Sesampainya di Negeri Bahorok. keluarga Si Pihir di terima dengan tangan terbuka oleh masyarakat setempat yang iba hati mendengar kesusahan yang ditimpakan kepada negeri dan keluarga mereka, bahkan keluarga Si Pihir diberikan sepetak tanah untuk didirikan rumah dan lahan untuk digarap sebagai modal mereka hidup di Negeri Bahorok, negeri rantau mereka. singkat cerita, tak perlu waktu yang cukup lama sukses pun menghampiri keluarga Si Pihir di negeri barunya, berkat keuletan dan kesabaran Si Pihir, lahan yang digarapnya membawakan kesuksesan kepada keluarganya, namun kesuksesan yang ia raih di negeri orang tak serta merta membuat ia lupa akan ibu kandung yang ia tinggalkan di kampung halaman, siang dan malam si pihir teringat saja kepada sang ibu, kegelisahan Si Pihir terbaca juga oleh Bibinya, maka dengan jujur Si Pihir  mengatakan ia rindu akan ibunya dan hendak ingin pulang untuk sementara waktu menjenguk ibunya di kampung halaman, mendengar cerita keponakannya itu, hati bibi Si pihir pun iba, maka dilepaskannya lah Si Pihir untuk pulang menjenguk sang ibu yang sudah tua renta.

***

Kampung halaman yang ia tinggalkan beberapa tahun yang lalu kini sudah sangat berbeda, kesengsaraan dan kekeringan yang menimpa negeri ini tatkala kemarau berkepanjangan berganti dengan kesuburan dan kebahagian masyarakatnya itulah yang ia liat selama berada dikampung halaman, melihat perubahan tersebut ditambah dengan semakin bertambahnya usia ibunya, Si Pihir akhirnya mengurungkan niat untuk kembali ke Negeri Bahorok, negeri rantau yang memberikan kekayaan dan  juga kemasyuran namanya.

Sementara itu, di Negeri Bahorok, Bru Dihe yang kini mulai beranjak dewasa telah menjadi buah bibir di negeri orang tersebut, dikarenakan tak hanya memiliki paras yang elok dipandang namun juga memiliki kepribadian yang baik pula, setiap laki-laki di negeri itu sangat mendambakan Bru Dihe agar menjadi penamping hidup mereka, namun sayang, cinta Bru Dihe akhirnya jatuh kepada salah satu anak dari Raja Bahorok.

Kabar kedekatan Bru Dihe dan anak dari Raja Bahorok sampai juga ke telinga Si Pihir, kabar tersebut ia dapatkan dari orang-orang dari kampungnya yang baru saja pulang dari Negeri Bahorok yang semenjak mendengar keberhasilan Si Pihir di Negeri tersebut banyak pemuda-pemuda Tanoh Alas berbondong-bondong merantau dan mencoba mengadu nasib ke negeri tersebut. dari mereka Si Pihir juga mengetahui dalam waktu dekat Bru Dihe akan menikah dengan anak Sang Raja Bahorok, rupanya Si Pihir tidak senang akan hal itu sejak dulu Si Pihir telah jatuh hati kepada Bru Dihe, anak bibinya, untuk itulah ia pamit kepada ibunya untuk kembali ke Negeri Bahorok menjemput kembali keluarga Bibinya dan merayu mereka untuk kembali ke Tanoh Alas.

***
Sesampainya di Sana, Si Pihir mulai merayu Bibi dan Bang Brunya untuk pulang ke negeri asal mereka, ia menceritakan bahwa negeri mereka sudah jauh berubah, kesuburan yang dulu sempat hilang kini telah kembali, akhirnya dengan segala jurus rayuan telah dikerahkan oleh Si Pihir untuk dapat membawa pulang keluarga bibinya serta memisahkan Bru Dihe dan anak Raja Bahorok berhasil juga, dengan kerjasama dengan bibi dan bang bru, Bru Dihe berhasil dibawa pulang, mereka mengatakan perjalanan mereka hanyalah sebagai ziarah ke Gunung Pematukan, Bru Dihe hanya mengiyakan saja tanpa tahu bahwa jalan mereka adalah menuju ke Tanah Alas, negeri yang sejak remaja telah ia tinggalkan.

Betapa sedihnya Bru Dihe mengetahui bahwa ia telah jauh meninggalkan kekasihnya anak Raja Bahorok, namun itu hanya bersifat sementara, Si Pihir dengan segera berhasil mengisi kesepian yang dirasakan oleh Bru Dihe semenjak berpisah dengan anak Raja Bahorok, dan telah terdengar pula kabar bahwa anak raja bahorok telah menikahi wanita lain yang rupa dan parasnya sangat mirip dengan Bru Dihe. 

Dengan terjalinnya cinta antara Si Pihir dan Bru Dihe maka keluarga mereka dengan segera mengatur tanggal yang baik untuk menggelar pernikahan mereka, tanggal pun telah ditetapkan. untuk menambah uang pernikahan yang semakin dekat, Si Pihir mencoba memutar otak bagaimana caranya dengan cepat mendapatkan uang agar pernikahannya tidak ditunda-tunda lagi kelak, selang beberapa hari dapatlah dia jalan dimana menurut orang-orang yang baru saja pulang dari Singkil bahwa beras dari Tanoh Alas amat bahal jika dijual di negeri pesisir tersebut, dengan bermodalkan berita tersebut maka berangkatlah  Si Pihir membawa beberapa kantong beras yang di naikkan ke perahu mengikuti alur deras sungai Alas menuju Negeri Singkil tiga hari tiga malam waktu yang ditempuh oleh Si Pihir untuk sampai kesana.


Ilustrasi Si Pihir menaiki perahu
Credit: Dongeng Sebelum Tidur

***

Berbulan-bulan lamanya Si Pihir berdagang di Negeri Singkil, ia tak kunjung pulang juga, Bru Dihe masih sangat setia menunggu kepulangan Si Pihir, melihat situasi tersebut maka muncul lah niat seorang pemuda kampung lainnya yang bernama Pengulu Tangkuh, yang ternyata telah lama menaruh hati kepada Bru Dihe, namun hati Bru Dihe masih dengan pendirian awal menunggu kepulangan Si Pihir dari Singkil, namun bukan Pengulu Tangkuh namanya jika ia dengan mudahnya untuk menyerah begitu saja, maka dibayarnya lah seorang suruhan yang bernama Juare Panjang, yang merupakan teman karib dari Bru Dihe untuk menghasut Bru Dihe dan keluarga Bibi Si Pihir untuk membatalkan pernikahan mereka, dengan alasan Si Pihir telah lupa dengan janjinya,namun sayang, hasutan demi hasutan tak juga mengurungkan niat keluarga Bru Dihe mempertahankan janji mereka kepada Si Pihir. kehilangan akal akhirnya jalan terakhir pun ditempuh oleh Pengulu Tangkuh dengan memberikan makanan yang sebelumnya telah diberikan mantra guna-guna olehnya, makanan tersebut dibawa oleh Juare Panjang, maka dengan segeralah berubah hati dan haluan keluarga Bru Dihe mereka membatalkan pernikahan tersebut dan menyusun pernikahan antara Pengulu Tangkuh dan Bru Dihe.

Pesan pun dengan segera disampaikan kepada Si Pihir tentang pembatalan pernikahannya dengan Bru Dihe dan tak lupa pula niat Bru Dihe menikah dengan Pengulu Tangkuh disampaikan, bersama dengan pesan itu Bru Dihe juga memberikan titipan barang yang dibawa oleh pemuda-pemuda Tanoh Alas yang hendak berdagang beras ke Singkil, titipan barang itu berisi cabai rawit yang dimasak, garam dan arang yang dibungkus dengan daun pisang, menerima pesan dan titipan barang tersebut dengan segera pahamlah Si Pihir bahwa hubungannya dengan Bru Dihe sudah kandas ditengah jalan.

Kesal dengan keputusan yang dikeluarkan secara sepihak dari keluarga Bibinya membuat Si Pihir dengan segera meninggalkan Tanah Singkil menuju ke Tanah Karo, niat hati Si Pihir adalah berguru ilmu kebatinan dengan Pengulu Singglit, seorang Dukun yang termasyur tak hanya di Tanah Karo namun juga sampai ke Negeri Antara. namun ternyata Pengulu Singglit adalah guru dari Pengulu Tangkuh pula, dan setiap ilmu yang diberikan kepada Pengulu Tangkuh sama diajarkan pula kepada Si Pihir, ilmu kebatinan yang diajarkan adalah ilmu merajah untuk membuat mengantuk hantu air, ilmu yang dapat menurunkan  burung elang dari terbangnya dan terakhir adalah ilmu perang mayung  yang dapat mematika musuhnya dalam seketika.

***

Merasa sudah cukup ia berguru kepada Pengul Singglit, Si Pihir pamit untuk kembali ke negeri asalnya dengan alasan ingin menjenguk ibunya yang sudah tua renta, sesampainya disana, betapa  betambah sedihnya ia selama ia berdagang ke Singkil, keluarga Bibinya tak sekalipun mengurus ibunya yang sebatang kara semenjak ayah Si Pihir tiada, dengan hati yang remuk redap mendapati situasi seperti itu Si Pihir mencoba menghibur diri dengan memainkan beberapa syair yang ia lantunkan dengan meniup bangsi, dari kejauhan terdengar pula oleh Bru Dihe suara khas Bangsi dari Si Pihir, taulah Bru Dihe bahwa  Si Pihir telah pulang ke kampung halaman, dengan segera Bru Dihe mendatangi Si Pihir namun  Si pihir dengan nada membentak menolak kedatangan Bru Dihe kehadapannya, pulanglah Bru Dihe dengan berlinangkan air mata.

Keesokkan harinya datanglah rombongan keluarga Pengulu Tangkuh membawa seserahan kepada mempelai wanita keluarga Bru Dihe, ternyata rombongan tersebut berpapasan dengan Si Pihir, dengan nada congkak Si Pihir mencoba meprovokasi keluarga Pengulu Tangkuh dengan nada-nada sumbang, Pengulu Tangkuh sangat terhina atas perbuatan dari Si Pihir oleh karena itu Pengulu Tangkuh mengadukan Si Pihir kepada tetua adat untuk di proeses atas perbuatan tidak menyenangkannya tersebut.

Setelah peristiwa tersebut, emosi Si Pihir memuncak dan ia bergegas ke suatu tempat dan melakukan ritual merajah hantu air yang ia alamatkan kepada Bru Dihe, dengan segera Bru Dihe merasakan efek guna-guna yang dialamatkan kepadanya, sekujur badannya merasakan kepanasan seperti terbakar, dengan berlari kencang, Bru Dihe menceburkan badannya ke Sungai Alas, tak sampai disitu, Si Pihir menjatuhkan beberapa sirih ke Sungai Alas, dengan segera entah dari mana datangnya turunlah dua ekor elang ke sungai menyerang tubuh Bru Dihe dan mencabik-cabik kulitnya yang bersih, mengetahui hal tersebut dengan singap Pengulu Tangkuh yang paham betul ilmu merajah air tersebut menyelamatkan Bru Dihe agar tak di bunuh oleh dua ekor elang tersebut, Pengulu Tangkuh memberikan obat penawar kepada Bru Dihe agar tak merasakan kepadanasan lagi, namun sayang dendam kesumat Si Pihir ternyata sudah menjadi-jadi, dengan ilmu terakhirnya Si Pihir memenggal leher ayam merah yang sebelumnya telah diberi mantra olehnya, maka dengan seketika Bru Dihe menghembuskan nafas terakhirnya.

Pengulu Tangkuh yang mengetahui darimana datangnya ilmu hitam tersebut melaporkan Si Pihir kepada Raja Mbatu Mbulan, dan dengan kearifan dan kebijakkannya Raja Mbatu Mbulan bersama Raja Bambel bermusyawarah untuk memberikan hukuman yang layak kepada Si Pihir, dengan bermodalkan pengakuan Pengulu Singglit yang juga dihadirkan pada pengadilan tersebut makan Si Pihir diberikan hukuman mati kepadanya,dan semenjak saat itu telah dilarang keras oleh Raja Mbatu Mbulan dan Raja Bambel sebagai penguasa Tanah Alas untuk tidak mengajarkan ilmu batin perang mayung kepada masyarakat tanah Alas


2 komentar

Pretty! This was an extremely wonderful article. Thanks for providing these details.

You are welcome, and thank you for visiting.
where do you come from??

Berkomentarlah dengan Cara yang sopan dan punya etika, No Bully, No Sara, No Spam dan yang terpenting No Porn, biar Barokah hidup kita!!
EmoticonEmoticon