Wednesday, 8 November 2017

Perbuatan/Perangai Yang di Larang dilakukan Oleh Wanita Minang

 
C: Infosumbar

MINANGKABAU adalah etnis yang unik, sebagai etnis/suku yang memegang paham matrilineal, Minangkabau meletakkan perempuan dalam posisi yang sangat istimewa. Di alam Minangkabau, perempuan amat sangat dihormati. Perempuan memiliki tempat dan hak suara di dalam kaum. Pendapatnya didengar, pertimbangannya diperlukan. Perempuan benar-benar mempunyai nilai. Jika kita larikan ke falsafah adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah penghormatan Minangkabau terhadap perempuan selaras dengan penghormatan syarak/agama Islam terhadap mereka, sebagaimana termaktubnya surat khusus bernama An-Nisa (perempuan) dalam kitabullah (Al-Qur’an).

Keistimewaan yang diberikan kepada perempuan Minangkabau itu tentu harus diikuti dengan serangkaian usaha untuk menjaganya. Sebab, sesuatu yang istimewa adalah sesuatu yang terjaga dan dipelihara sebaik mungkin. Oleh karena itu, para pendahulu menetapkan aturan atau pendidikan terhadap anak-anak perempuan agar tetap menjaga keistimewaan mereka. Nuansa pendidikan itu disebut dengan sumbang, yang dapat diartikan sebagai sesuatu yang tidak pada tempatnya. Sumbang ini terdiri dari 12 poin yang bisa kita bahasakan sebagai 12 budaya terlarang bagi perempuan Minangkabau. Budaya dalam konteks ini berarti kebiasaan yang tidak boleh dilakukan oleh perempuan Minang demi menjaga warisan budaya dari para pendahulunya.

Sumbang Duduak
Duduk yang sopan bagi perempuan Minang adalah bersimpuh, bukan bersila macam laki-laki, apalagi mencangkung atau menegakkan lutut. Ketika duduk di atas kursi duduklah dengan menyamping, rapatkan paha. Jika berboncengan jangan mengangkang. 

Sumbang Tagak
Perempuan dilarang berdiri di depan pintu atau di tangga. Jangan berdiri di pinggir jalan jika tidak ada yang dinanti. Sumbang berdiri dengan laki-laki yang bukan muhrim
.
Sumbang Jalan
Ketika berjalan, perempuan Minang harus berkawan, paling kurang dengan anak kecil. Jangan berjalan tergesa-gesa apalagi mendongkak-dongkak. Jika berjalan dengan laki-laki berjalanlah di belakang. Jangan menghalagi jalan ketika bersama dengan teman sebaya.

Sumbang Kato
Berkatalah dengan lemah lembut, berkatalah sedikit-sedikit agar paham maksudnya, jangan serupa murai batu atau serupa air terjun. Jangan menyela atau memotong perkataan orang, dengarkanlah dulu hingga selesai. Berkata-katalah yang baik.
 
Sumbang Caliak
Kurang tertib seorang perempuan Minang ketika suka menantang pandangan lawan jenis, alihkanlah pandangan pada yang lain atau menunduk dan melihat ke bawah. Dilarang sering melihat jam ketika ada tamu. Jangan suka mematut diri sendiri.

Sumbang Makan
Jangan makan sambil berdiri, nyampang makan dengan tangan genggamlah nasi dengan ujung jari, bawa ke mulut pelan-pelan dan jangan membuka mulut lebar-lebar. Ketika makan dengan sendok jangan sampai sendok beradu dengan gigi. Ingat-ingat dalam bertambah (batambuah).

Sumbang Pakai
Jangan mengenakan baju yang sempit dan jarang. Tidak boleh yang menampakkan rahasia tubuh apalagi yang tersimbah atas dan bawah. Gunakanlah baju yang longgar, serasikan dengan warna kulit dan kondisi yang tepat, agar rancak dipandang mata.

Sumbang Karajo
Kerjaan perempuan Minang adalah yang ringan serta tidak rumit. Pekerjaan berat serahkanlah pada kaum laki-laki. Jika kerja di kantor yang rancak adalah menjadi guru.

Sumbang Tanyo
Jangan bertanya macam menguji. Bertanyalah dengan lemah lembut. Simak lebih dahulu baik-baik dan bertanyalah jelas-jelas.

Sumbang Jawek
Ketika menjawab, jawablah dengan baik, jangan jawab asal pertanyaan, jawablah sekadar yang perlu dijawab tinggalkan yang tidak perlu.

Sumbang Bagaua
Jangan bergaul dengan laki-laki jika hanya diri sendiri yang perempuan. Jangan bergaul dengan anak kecil apalagi ikut permainan mereka. Peliharalah lidah dalam bergaul. Ikhlaslah dalam menolong agar senang teman dengan kita.

Sumbang Kurenah
Tidak baik berbisik-bisik saat tengah bersama. Jangan menutup hidung di keramaian. Jangan tertawa di atas penderitaan orang lain, apalagi hingga terbahak-bahak. Jika bercanda, secukupnya saja dan diagak-agak, agar tidak tersinggung orang yang mendengar. Jagalah kepercayaan orang lain, jangan seperti musang yang berbulu ayam.
 
Keistimewaan tentu harus dijaga dengan usaha yang ekstra. Bagai berlian yang dikurung di etalase kaca anti pecah dan bergembok, tak sembarang orang bisa menyentuhnya. Perempuan Minangkabau sangat berharga, bahkan jauh lebih berharga dari berlian yang dicontohkan itu. Berharganya dan istimewanya mereka selaras dengan harga diri yang perlu mereka pertahankan dengan teguh. Sebab, ketika perempuan Minang bisa menjaga semua itu, ketika perempuan Minang mampu menjaga diri dari 12 sumbang yang telah dijelaskan di atas, dari situlah kecantikan sejati akan memancar dan kecantikan itu sampai kapanpun takkan pernah pudar. 
 
Sumber: portal unik

Monday, 6 November 2017

Suku Kampar (Ocu), Minang atau Melayu??


Lontiok Rumah Adat Suku Kampar C: Anak-anak Minang

Sejarah Suku Ocu (Kampar)
Suku Ocu merupakan salah satu suku yang berasal dari provinsi Riau. Secara spesifik suku Ocu berasal dari kabupaten Kampar oleh karena itu mereka dikenal juga sebagai Suku Kampar, biasanya mereka menyebut komunitas masyarakatnya dengan sebutan "Oughang Kampar"

Suku Ocu dikelompokan kedalam ras Melayu Tua atau Proto Melayu. Dalam tradisi suku Ocu, mereka dikelompokan lagi kedalam suku-suku kecil atau subsuku, yaitu suku Piliang, Domo, Putopang, Kampai dan suku Mandiliong.

Sehari-hari masyarakat Ocu bertutur menggunakan bahasa Ocu, salah satu bahasa yang dikelompokan kedalam rumpun Bahasa Melayu. Hanya saja bahasa Ocu diperkirakan lebih tua dibandingkan bahasa Melayu Daratan. Jadi, selain merujuk pada nama suku, istilah Ocu juga merujuk pada Bahasa.

Perkataan  Ocu juga dipakai sebagai sebutan wilayah dan sebutan bagi saudara atau anak ke empat hingga seterusnya. Dalam adat Kampar, anak pertama oleh saudara-saudaranya dipanggil dengan sebutan Uwo (berasal dari kata tuo, tua, yang paling tua). Anak kedua dipanggil oleh adik-adiknya dengan sebutan Ongah, yang berasal dari kata tengah. Anak ketiga dipanggil oleh adik-adiknya dengan sebutan Udo, atau anak paling mudo (paling muda). Sementara untuk anak ke empat, baik laki atau perempuan dipanggil dengan sebutan Ocu. Kemungkin berasal dari kata Ongsu, yang dalam bahasa Indonesia berarti bungsu atau anak terakhir. Anak kelima dan seterusnya juga akan dipanggil Ocu. Penyebutan semacam ini juga berlaku dibeberapa wilayah lainnya di Riau Daratan.

Asal-usul suku Ocu saat ini masih menjadi kontroversi. Ada yang bilang suku Ocu berasal dari Sumatera Barat dan masih bagian dari suku Minangkabau. Pendapat tersebut punya alasan sendiri karena budaya, adat istiadat, bahasa, struktur pemerintahan dan gaya bangunan memiliki kemiripan dengan budaya Sumatera Barat. Selain itu dalam Tambo Minangkabau wilayah Kampar merupakan bagian dari wilayah Minangkabau. Beberapa sumber juga menyebutkan kalau suku Ocu menganut sistem kekerabatan matrilineal seperti suku Minangkabau. Namun tidak ada satupun anak-anak keturunan Ocu yang mau disebut sebagai suku Minangkabau.


Selain pendapat diatas, ada pendapat lainnya yang menyebutkan kalau suku Ocu berasal dari keturunan Riau Daratan. Pendapat ini juga didasarkan atas kesamaan karakteristik masyarakat ocu di kabupaten Kampar, dengan adat dan kebudayaan beberapa kabupaten di provinsi Riau yang didominasi oleh masyarakat Melayu.

Pendapat lainnya adalah suku Ocu berdiri sendiri yang terpisah dari suku Minangkabau ataupun Melayu. Pendapat ini mengemuka karena adanya anggapan kalau dahulunya orang Ocu memiliki kerajaan sendiri. Melihat banyaknya versi tentang asal-usul suku Ocu ini, membuka mata kita bahwa harus dilakukan penelitian yang lebih dalam lagi. Dengan demikian tidak muncul kontroversi yang membuat polemik antara suku Ocu dengan suku-suku lain disekitarnya.

Rumah Adat Ocu (Kampar)
Rumah Pelancangan atau rumah Lontiok adalah rumah adat yang terdapat di daerah suku kampar. Bentuk rumah Lontiok dikatakan berasal dari bentuk perahu, hal ini tercermin dari sebutan pada bagian-bagian rumah tersebut seperti: bawah, tengah, ujung, pangkal, serta turun, naik. Dinding depan dan belakang dibuat miring keluar dan kaki dinding serta tutup didinding dibuat melengkung sehingga bentuknya menyerupai sebuah perahu yang diletakkan diatas tiang-tiang. 
 
Rumah Lontiok berfungsi sebagai rumah adat dan rumah tempat tinggal. Dibangun dalam satu prosesi panjang yang melibatkan masyarakat luas serta upacara.
 
Rumah Lontiok atau Lontik, merupakan rumah panggung. Tipe konstruksi panggung dipilih untuk menghindari bahaya binatang buas dan banjir. Kolong rumah, biasanya digunakan untuk kandang ternak, wadah penyimpanan perahu, tempat bertukang atau tempat bermain anak-anak, dan gudang kayu untuk persiapan bulan puasa. Kemudian lain penyebab pemakaian konstruksi panggung adalah adanya ketentuan adat untuk memakai tangga, dengan jumlah anak tangga ganjil dan menyediakan tempayan air didekatnya untuk mencuci kaki di pangkal tangga. Ketentuan adat juga menyatakan bahwa penghuni perempuan cukup berpakaian sedada tanpa baju (kemban) di dalam rumah atau tidur-tidur dirumah tanpa adanya penyekat/pelindung ruang. Kalau rumah dibangun rendah atau “melekat” di atas tanah, maka keadaan di dalam rumah akan kelihatan dari luar rumah.
 
Dinding luar Rumah Lontik seluruhnya miring keluar, berbeda dengan dinding dalam yang tegak lurus. Balok tumpuan dinding luar depan melengkung keatas, dan kalau disambung dengan ukiran sudut-sudut dinding, kelihatan seperti bentuk perahu. Balok tutup atas dinding juga melengkung meskipun tidak semelengjung balok tumpuan. Lengkungannya mengikuti lengkung sisi bawah bidang atap. Kedua ujung perabung diberi hiasan yang disebut Sulo Bayung. Sedangkan Sayok Lalangan merupakan ornamen pada ke 4 sudut cucuran atap. Bentuk hiasan beragam, ada yang menyerupai bulan sabit, tanduk kerbau, taji dan sebagainya.

Ritual Pernikahan Suku Kampar
Dalam adat pernikahan suku kampar ada beberapa ritual yang harus dijalani oleh masyarakat adat kampar dalam resepsi pernikahannya, berikut ini urainnya:

1. Ibu-ibu membantu memasak di rumah mempelai wanita

Di Kabupaten Kampar dari zaman ninik mamak terdahulu, apa bila ada saudara sekampung yang hendak menikah, maka keluarga dari mempelai yang hendak menikah harus memanggil para tetangga kampung untuk membantu kegiatan memasak yang dilakukan 3 hari ataupun sehari sebelum acara resepsi pernikahan berlangsung (hitungan ini tergantung dari keluarga mempelai), karena masyarakat kampar sejak dulu dikenal dengan cara bergotong royong dalam melakukan sesuatu termasuk dalam mempersiapkan makanan untuk resepsi pernikahan.

2. Acara Shalawatan (Badiqiu) 
Badiqiu merupakan suatu acara yang ada dalam kebudayaan masyarakat kampar. Acara ini dilakukan oleh para tokoh-tokoh dan sesepuh adat pada malam hari sebelum acara resepsi pernikahan dilakukan, agar acara pernikahan ini berlangsung dengan hikmat dan keluarga yang baru menjadi keluarga yang utuh hingga akhir hayat.


3. Acara Pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan (Ba'aghak)

Dengan dentuman Rebana dari para tokoh adat ini, menambah kehikmatan nilai budaya yang sakral pada acara pengantaran Pihak Lelaki ke rumah Pihak Perempuan, biasanya shalawatan selalu di kumandang kan hingga akhirnya Pihak Lelaki sampai kerumah Pihak Perempuan. Setelah pihak laki-laki tiba, kedua mempelai langsung di persandingkan.


4. Acara Pengantaran Pihak Lelaki dengan membawa Hantaran (Jambau)
Seperti adat di daerah lainnya, hantaran juga berlaku di kabupaten kampar, tetapi tidak terlalu mengikat, jika mempelai lelaki tidak mampu untuk memberikanhantaran, maka ini tidak di wajibkan untuk membawa hantaran tersebut.

 
 
Sumber : 
  1. http://nativeindonesians.blogspot.co.id 
  2. http://echopedian.blogspot.co.id/